Sumber kesesatan di dalam agama ada 2 perkara :

Pertama : Kejahilan terhadap dalil-dalil; dan yang seperti ini ada beberapa jenis :

○ Jahil tentang keberadaan dalil-dalil tersebut; dalil-dalil tersebut tersembunyi baginya baik secara keseluruhan ataupun sebagiannya.

○ Jahil tentang shahih atau dha’ifnya dalil-dalil tersebut; terkadang seseorang mengetahui adanya dalil-dalil tersebut akan tetapi karena tidak mengetahui keshahihan atau kedha’ifannya; maka ia terjatuh dalam kekeliruan.

○ Jahil tentang maksud atau tujuan dari dalil-dalil tersebut, atau tidak mengetahui penggunaanya di sisi orang-orang arab generasi awal (shahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in); terkadang seseorang mengetahui suatu hadits, menghafalnya, mengetahui ilat-ilatnya secara detail, mengetahui bahasa arab dengan baik dan benar, akan tetapi pada saat berdalil pendalilannya jauh sekali dengan yang dipahami oleh orang-orang yang menyaksikan langsung turunnya nash (dalil) tersebut, maka ia jatuh pada kekeliruan.

Kedua : Di antara penyebab kesesatan di dalam agama adalah hawa nafsu;

Dalil tersebut tidak akan memberi manfaat kepada pelakunya (ahli hawa) meskipun ia mengetahui dalil tersebut; ia akan meninggalkan pendalilan yang shahih menuju kepada pendalilan yang sesuai dengan hawa nafsunya.

Oleh karena itu, Allah -تبارك وتعالى- memperingatkan manusia dari hawa nafsu tersebut, sampai para Nabi-pun diperingatkan darinya; karena hawa nafsu sekecil apapun akan memberi dampak yang buruk pada jiwa pelakunya, meskipun terkadang ia tidak menyadarinya.

Sungguh, Allah telah memperingatkan Nabi-Nya (Muhammad) -عليه الصلاة والسلام- dari hal ini; Allah berfirman :

ولئن اتبعت أهواءهم من بعد ما جاءك من العلم إنك إذا لمن الظالمين [البقرة: ١٤٥]

Jika engkau (Muhammad) mengikuti hawa nafsu (keinginan) mereka setelah datang ilmu kepadamu, maka niscaya engkau termasuk orang-orang yang zhalim.

Padahal Allah -سبحانه وتعالى- telah menjaga Nabi-Nya dari hal itu (dari hawa nafsu dan kesalahan dalam menyampaikan risalah) dengan firman-Nya :

وما ينطق عن الهوى [النجم: ٣]

Dan tidaklah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut hawa nafsunya (keinginannnya).

Demikian juga Allah memperingatkan Nabi Daud -عليه السلام- ; Allah berfirman :

ولا تتبع الهوى فيضلك عن سبيل الله [ ص: ٢٦]

Dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan engkau dari jalan Allah.

Allah memperingatkan para Nabi-Nya padahal mereka semuanya ma’shum, ini sebagai bentuk tarhib atau untuk menakut-nakuti orang-orang yang selain mereka.

والله أعلم.

Diringkas dari Muqaddimah Kitab Al-Khurasaniyyah.


✍ Abu Maryam Amir Yusuf

admin Amir Yusuf

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *