Coretan

Semenjak belajar di pondok pesantren di Indonesia, lalu menimba ilmu ke Mahad Darul Hadits, Yaman, lalu saat ini bermulazamah madzhab fiqh dan ushul fiqh madzhab Syafi’i kepada Syaikhuna KH. A. Saifuddin, semuanya berjalan dengan metode tradisional (klasik). Ada yang mengistilahkan dengan sistem bandongan, dimana guru membaca kitab, lalu menerjemahkan, lalu menjelaskan seperlunya. Sedangkan murid menyimak kitab dan mencacat berbagai penjelasan yang dirasa perlu dari gurunya. Belajarnya dari satu kitab ke kitab lain. Dari kitab yang dasar lalu berlanjut ke kitab-kitab yang di atasnya. Demikian seterusnya.

Yang paling unik, mulazamah saya saat ini kepada Syaikhuna KH. A. Saifuddin. Karena beliau mengajarkan kitab-kitab fiqh madzhab Syafi’i dan ushul fiqhnya dengan metode “utawi iki iku” dengan pengantar bahasa Jawa. Ini benar-benar keren. Dimana sebelumnya saya belum pernah mengalaminya. Karena saat di pondok pakai pengantar bahasa Indonesia dan saat di Yaman pakai bahasa Arab. Tidak sedikit kalimat-kalimat bahasa Arab yang tidak bisa diterjemah secara detail dengan bahasa Indonesia, tapi bisa diterjemah secara detail dengan bahasa Jawa. Hebat bukan ?!

Maka jika dikatakan si fulan telah khatam (selesai) belajar kitab Fathul Qarib, misalnya, maka dia benar-benar selesai belajar kitab itu dari gurunya dari halaman pertama sampai halaman terakhir. Semuanya dibaca, bahkan titik komanya saja ikut ‘dibaca’. Jadi tidak ada istilah selesai tapi sekedar rangkuman atau selesai dalam arti secara global saja. Oleh karena itu, biasanya terdapat berbagai coretan berupa ta’aliq (catatan) di pinggir kitab. Dan kalau sudah selesai, biasanya dapat ijazah dari guru berupa tanda tangan di akhir halaman, plus tanggal selesai belajar dan sanad (transmisi) kitab.

Semua kitab yang pernah saya “gurukan” di hadapan masyaikh (guru), baik para guru di Yaman ataupun di Indonesia, sampai hari ini terjaga dengan baik dan lengkap, tidak ada satupun yang hilang – alhamdulillah -. Bahkan saat pulang dari Yaman, semua kitab sebanyak empat karton saya kirim lewat cargo pesawat, tapi khusus kitab-ktiab yang pernah saya gurukan saya bawa sendiri pakai tas rangsel dan kardus kecil ikut masuk ke dalam pesawat bersama saya. Karena jika dikirim via cargo, khawatir ada yang hilang sebagaimana teman saya ada yang kiriman kitabnya lima karton sampai hari ini tidak pernah sampai Indonesia (hilang).

Semoga Allah merahmati para guru kita yang telah wafat dan menjaga dari mereka yang masih hidup dalam kebaikan serta memberikan kemanfaatan ilmu mereka untuk umat. Amin.

Selamat tahun baru Islam, 1 Muharam 1442 H. Kullu ‘amm antum bikhair.

Abdullah Al-Jirani Al-Jawi


admin Abdullah Al-Jirani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *