Puasa Syawwal
Boleh bagi seorang yang masih punya hutang puasa Ramadhan untuk puasa enam hari di bulan Syawwal. Jika membayar hutang terlebih dahulu, maka ini lebih utama.Imam An-Nawawi (w. 676 H) berkata :
وَالْأَفْضَلُ أَنْ تُصَامَ السِّتَّةُ مُتَوَالِيَةً عَقِبَ يَوْمِ الْفِطْرِ فَإِنْ فَرَّقَهَا أَوْ أَخَّرَهَا عَنْ أَوَائِلِ شَوَّالٍ إِلَى أَوَاخِرِهِ حَصَلَتْ فَضِيلَةُ الْمُتَابَعَةِ 
“Yang paling utama, puasa enam hari ini ditunaikan secara langsung mengikuti hari raya (tanggal 2 Syawwal). Akan tetapi jika seorang menceraiberaikannya atau mengakhirkannya dari awal bulan Syawal sampai hari-hari akhir bulan tersebut, maka telah terwujud akan keutamaan mutaba’ah (mengikutkan puasa Ramadhan dengan puasa enam hari bulan Syawwal).”
Adapun jika seorang punya hutang puasa Ramadhan namun tidak memiliki alasan yang dibenarkan syari’at saat meninggalkannya, maka tidak boleh puasa Syawwal. Akan tetapi wajib baginya untuk mengadha’ puasa Ramadhan secara langsung, alias tidak boleh ditunda.
Imam Al-Bujairami (w.1221 H) :
ظَاهِرُ الْخَبَرِ أَنَّ الثَّوَابَ الْمَذْكُورَ خَاصٌّ بِمَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَلَا يَقْتَضِي عَدَمَ اسْتِحْبَابِهَا لِمَنْ لَمْ يَصُمْهُ بِعُذْرٍ بَلْ هُوَ مُسْتَحَبٌّ فَإِنْ لَمْ يَصُمْهُ تَعَدِّيًا حَرُمَ عَلَيْهِ صَوْمُهَا عَنْ غَيْرِ رَمَضَانَ لِوُجُوبِ الْقَضَاءِ عَلَيْهِ فَوْرًا
“Makna yang nampak dari hadits di atas, sesungguhnya pahala puasa yang disebutkan, khusus bagi seorang yang puasa sebulan penuh, namun secara kandungan hukum, dianjurkan pula bagi seorang yang tidak puasa karena adanya alasan yang syar’i. Adapun jika seorang tidak berpuasa karena melampaui batas, maka diharamkan baginya untuk puasa Syawwal, karena dia wajib untuk membayar puasa Ramadhan secara langsung.”
Wallahu a’lam.
_@Abdullah Al-Jirani
BACA:
admin Abdullah Al-Jirani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *