MENUMBUHKAN KEBERANIAN DI HATI ANAK ANAK (agar kelak berani membela kebenaran)

Akhir zaman adalah masa dimana umat Islam membutuhkan keberanian untuk menjaga prinsip agama. Segala macam ancaman dan serangan diterima oleh umat Islam dari berbagai lini kehidupan. Tekanan yang bertubi-tubi sering menimbulkan ciut nyali sebagian umat Islam.

Ditambah lagi, melihat keadaan barisan umat Islam yang serba kekurangan dan terlihat compang-camping, semakin membuat jiwa sebagian orang terpuruk. Dalam sebuah riwayat, Kanjeng Nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan apa yang akan terjadi di akhri zaman:

ثم عدتم من حيث بدأتم وعدتم من حيث بدأتم ، وعدتم من حيث بدأتم

Kemudian kalian kembali seperti semula (diulangi 3x). (shahih Muslim)

Abu Thayyib Syamsul Haq Al-Adzim Abadi, pensyarah Sunan Abu Daud menyampaikan bahwa makna “kalian kembali seperti semula” adalah Islam kembali terasing dari kehidupan umat. Sebagian ulama yang lain menyampaikan makna yang lebih buruk yaitu “ umat Islam kembali kepada kekufuran.”

Sehingga Islam kembali terasing dan ditinggal oleh umat Islam.
Dimasa ajaran Islam menjadi asing, orang yang berkehendak mendapatkan ridha dan ampunan Allah, tentulah membutuhkan keberanian dalam berpegang teguh terhadap ajaran Islam.

BERANI MENYUARAKAN KEBENARAN

Pendidikan anak dalam ajaran Islam mencakup pendidikan akhlaq mulia (adab) dalam segala macam bentuknya. Salah satu adab mulia adalah keberanian dalam menyuarakan kebenaran. Sifat ini selaras dengan perintah kanjeng Nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallam:

قُلِ اَلْحَقَّ, وَلَوْ كَانَ مُرًّا
Suarakan kebenaran, meskipun pahit rasanya. (shahih Ibnu Hibban)

Oleh sebab itu, para shahabat dan generasi awal Islam menjadi contoh bagaimana di masa kecil telah tertanam kebenaranian menyampaikan kebenaran.

Abdullah bin Zubair yang masih kecil bertemu dengan Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pada waktu berjalan-jalan di Madinah. Pada waktu itu banyak anak-anak kecil yang lari begitu melihat Umar, kecuali satu anak yaitu Abdullah bin Zubair. Maka Umar bertanya: “Wahai anak kecil, kenapa engkau tidak lari bersama mereka?” Abdullah bin Zubair menjawab: “Kenapa saya harus lari,saya tidak punya kesalahan pada anda Ya Amirul Mukminin.” Maka Umar menepuk pundaknya dan berkata, “Sungguh, suatu saat nanti engkau akan menjadi orang besar.”

Dikisahkan suatu hari Abdullah bin Umar melakukan perjalanan, dan beliau mleihat seorang budak yang sedang menggembala kambing, maka Ibnu Umar berkata (untuk mengujinya): “Apakah engkau mau menjual seekor darinya?”Budak itu menjawab: “Sesungguhnya kambing kambing ini bukan milikku.” Ibnu Umar kemudian berkata, “Katakan saja kepada tuanmu bahwa ada serigala yang telah memangsa seekor darinya.” Budak itu berkata: “Lalu dimanakah Allah?”. Abdullah bin Umar begitu terkesan dengan jawan penggembala kambing itu, sehingga sesudah peristiwa itu hingga waktu yang lama, ibnu Umar sering mengulang-ulang ucapaan penggembala kambing itu: “Lalu, dimanakah Allah?”

Suatu hari imam Abu Hanifah (Nu’man bin Tsabit) bertemu dengan seorang anak yang memakai sepatu kayu, beliau berkata: “Wahai anak kecil, berhati-hatilah dengan sepatumu, jangan sampai engkau tergelincir.” Anak kecil itu bertanya: “Siapa anda wahai tuan?” Imam Abu Hanifah menjawab: “Aku adalah Nu’man.” Anak kecil itu berkata: “Jadi tuankah yang bergela Imam al-A’dham (imam besar)….berhati hatilah dengan gelar anda. Jangan sampai tuan tergelincir ke neraka karena gelar anda.”

MEMUPUK KEBERANIAN ANAK, AGAR MEREKA ISTIQAMAH DI ATAS ISLAM

Di saat Umat Islam ditakut-takuti ketika melaksanakan ajaran agamanya, salah satu obat mujarab untuk menghilangkan rasa khawatir adalah menumbuhkan keberanian diri dalam menetapi ajaran Islam.
Sebagian sarana untuk menumbuhkan keberanian jiwa adalah:

MENGUATKAN IBADAH DAN KETAATAN PADA ALLAH.

Sebab, dosa dan maksiyat adalah sumber utama rasa takut yang muncul di dalam jiwa seseorang.
Allah ta’ala berfirman:

Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. (QS. ali Imran: 151)

Kita simak kisah beberapa para shahabat Rasul yang ketika dewasa menjadi pahlawan pahlawan Islam, bagaimana mereka terpola sejak kecil untuk mentaati Allah dan setia pada-Nya:

Abdullaah bin Zubair ketika Rasul meninggal usianya sekiratar 8,5 tahun. Beliau bercita-cita membagi malamnya menjadi tiga dan akan dilakukan sepanjang hayat, satu malam untuk berdiri sholat hingga pagi, satu malam untuk ruku’ sholat hingga pagi, satu malam yang lain dipakai untuk sujud sholat hingga pagi.

Abu Juhaifah ketika Rasul meninggal usianya sekitar 13 tahun. Suatu hari Abu Juhaifah makan bubur dan daging kemudian melewati kanjeng Nabi sambil bersendawa (glege’en). Mendengar sendawanya kanjeng Nabi bersabda: “ Wahai Abu Juhaifah, tahanlah sendawamu. Tidaklah salah seorang di antara kalian paling kenyang perutnya hari ini (di dunia) kecuali dialah yang paling panjang laparnya di hari kiamat.” Maka sejak itu Abu Juhaifah tidak pernah merasakna kenyang hingga meninggal (banyak puasa).

Demikian pula Ibnu Abbas yang masih kecil, ingin melihat qiyamullail kanjeng Nabi shollallaah ‘alaihi wa sallam. Agar dapat mencontohnya. Maka Ibnu Abbas minta izin menginap di rumah kanjeng Nabi pada waktu giliran beliau tidur di rumah ummul Mukminin Maimunah (yang merupakan bibi Ibnu Abbas). Dan ibnu Abbas menyediakan air wudhu Nabi.

Semakin kuat hubungan anak-anak kita dengan Allah, maka semakin kokoh jiwa mereka untuk menyuarakan kebenaran kelak di kemudian hari.

MENGIKAT JIWA ANAK DENGAN CINTA ISLAM DAN KESANGGUPAN BERKORBAN BAGINYA

Di sepanjang hayat, kanjeng Nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallam memba’iat empat anak kecil sebagai penghormatan bagi mereka. keempat anak kecil itu adalah Hasan, Husain, Ibnu Abbas dan Ibnu Zubair. Dan ketika dewasa anak-anak kecil tersebut dikenal sebagai tokoh-tokoh besar umat Islam, yang teguh menetapi ajaran Islam.

Mua’dz bin Amru bin Jamuh dan Mu’awidz bin Afra adalah dua anak berusia 14 dan 14 tahun. Pada perang Badar mereka cari panglima perang Quraisy yaitu Abu Jahal. Mereka berdua bertemu dengan Abdurrahmah bn Auf dan bertanya: “Paman, tunjukkan kepada kami Abu jahal.” Abdurahman bin Auf bertanya: “Wahai anak saudaraku, apa yang akan engkau kerjakan terhadapnya?” Anak kecil itu menjawab: “Wahai paman, kami mendengar dia sering mencaci-maki Rasulullah. Demi Allah, mataku tidak akan terpejam hingga melihat siapa di antara kami yang mati (aku atau dia).” Maka dua anak kecil itu lantas menyerbu Abu Jahal dan menewaskannya…

Di zaman Umar bin Khattab ada sekelompok anak kecil yang bermain bola dan jatuh di dekat kaki seorang pemuka agama ahlul kitab. Tetapi orang itu menahan bola dan tidak mau menyerahkan pada mereka. Sehingga, anak-anak tersebut bersumpah agar pemuka ahlul kitab itu menyerahkan bola mereka, tetapi justru dia mencaci-maki kanjeng Nabi di hadapan anak-anak kecil itu. maka anak-anak kecil itu memukuli si pemuka ahlul kitab sampai mati. Gegerlah masyarakat atas peristiwa itu dan disampaikan kepada Umar bin Khattab. Tetapi amirul Mukminin Umar justru terlihat gembira dan berkata; “Hari ini, Allah telah memuliakan agama-Nya.”

MEMUPUK CINTA ISLAM dalam jiwa seorang anak terhadap DIBANGUN dengan nilai-nilai keimanan yang diajarkan setiap saat oleh orang tua.

PENGORBANAN mereka untuk ajaran Islam dapat dimulai dengan membiasakan anak men-shadaqahkan sebagian benda yang mereka cintai (bisa berupa: uang saku, mainan kesayangan, baju favorit dan lain-lain) untuk ajaran Islam dan kaum muslimin yang membutuhkan.

AJARI ANAK BELADIRI DAN KEKUATAN BADAN

Di dalam sebuah riwayat disebutkan kanjeng Nabi shollallaau ‘alahiwa sallam bersabda:

علموا أولادكم السباحة والرماية
Ajarilah anak-anak kalian berenang dan memanah (HR. ibnu mandah, ash-shakhawi: hadits hasan li ghoirihi)

Kekuatan jasmani dan kemampuan beladiri dapat berfungsi untuk menaikkan kepercayaan diri seseorang. Diriwayatkan bahwa di masa-masa awal dakwah Kanjeng Nabi di Makkah, suatu hari Zubair bin Awwam (berusia 15-an tahun) mendengar berita bahwa kanjeng Nabi telah dibunuh oleh orang-orang Quraisy. Maka Zubair berkeliling di jalan-jalan Makkah dengan menyeret pedangnya yang terhunus untuk mencari siapa gerangan orang yang telah membunuh nabi. Meksipun rupanya berita itu tidak benar.

Samurah bin Jundub berkata: Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wa sallam menawarkan kami orang Anshar turut berperang, dan beliau menyertakan yang dewasa saja. Aku pun menawarkan diri, namun beliau memasukkan dalam golongan anak-anak dan menolakku. Maka aku katakan kepada beliau, “Ya Rasulullah, andai saja aku bertarung dengannya (yang telah dianggap dewasa), pasti aku mengalahkannya.” Aku pun betanding dan mengalahkannya. Akhirnya beliau mengizinkanku turut berperang.”

Semoga Allah menjadikan kita dan anak keturunan kita, orang orang yang berani menyuarakan dan membela kebenaran Islam sampai kapanpun….

admin Fahrurozi Abu Syamil, Tarbiyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *