Cara paling ampuh untuk menghadapi berbagai kebodohan dan kekonyolan adalah dengan mendiamkannya. Semakin didiamkan, maka akan semakin cepat lenyap. Tidak semua perkara harus kita tanggapi sekalipun itu sebuah kebatilan. Ada yang perlu ditanggapi, dan ada yang tidak perlu. Karena sebagian perkara itu jika kita tanggapi, justru akan semakin besar dan tersebar ke mana-mana. Pihak-pihak yang harusnya tidak perlu tahu, jadi tahu. Akhirnya terjadilah fitnah yang dahsyat di tengah-tengah masyarakat muslimin.
Dulu, Nabi ﷺ pernah atau bahkan sering diejek oleh orang-orang kafir Quraisy lewat lantunan syair-syair mereka. Tapi karena nabi ﷺdan para sahabat tidak menanggapi hal itu, akhirnya hilang sendiri, berlalu tanpa meninggalkan bekas. Sahabat Umar bin Khathab pernah berkata :
أميتوا الباطل بالسكوت عنه, ولا تثرثوا فيه, فينتبه الشامتون
“Matikanlah kebatilan dengan mendiamkannya, Janganlah kalian meributkannya sehingga didengar oleh orang yang menyukainya, yaitu orang yang senang dengan bencana orang lain.”
Beliau juga menyatakan :
إن لله عبادا يميتون الباطل بهجره و يحيون الحق بذكره
“Sesungguhnya Allah memiliki para hamba yang mematikan kebatilan dengan cara meninggalkannya, dan menghidupkan kebenaran dengan cara menyebutnya.” [Hilyatul Auliya’ : 1/55]
Orang bodoh itu, sekali ditanggapi, maka akan semakin senang dan semangat dalam menyebarkan kebatilan dan kebodohannya. Karena saat itu, dia merasa ada ‘bahan’ yang bisa dia gunakan untuk melanjutkan dan menyebarkan kebodohannya kepada umat. Ibarat api, akan terus menyala saat ada media yang dibakarnya. Tapi saat tidak ada, api itu akan mati sendiri.
Saat kebatilan dan kebodohan menyebar, maka kebenaran harus lebih sering disebutkan kepada umat. Dengan sendirinya, kebodohan itu akan tergeser dan akhirnya lenyap. Ibarat air yang kemasukan najis, maka salah satu cara untuk menetralkannya dengan memperbanyak air yang suci kepadanya. Secara otomatis najis itu akan hilang sendiri. Air semakin banyak volumenya, akan semakin kuat menahan diri dari najis.
Dalam pelajaran fiqh, air “dua qullah” itu tidak bisa serta merta menjadi najis ketika kemasukan najis, sampai berubah salah satu dari tiga sifatnya, yaitu rasa, bau dan warna. Tapi jika air itu sedikit, kurang dari dua qullah, maka ketika ada najis yang masuk kepadanya, otomatis dihukumi najis walapun salah satu dari tiga sifatnya tidak berubah . Kalaupun ada perkara yang dirasa harus ditanggapi, maka seperlunya saja. Tidak perlu berlarut-larut, apalagi sampai melalaikan kita dari perkara yang lebih penting.
Wallahu a’lam bish shawab
admin Abdullah Al-Jirani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *