AGAR KITA DAN ANAK KETERUNAN KITA “DIPAKAI” OLEH ALLAH UNTUK MENTAATI-NYA

Satu kebahagiaan besar, apabila seorang ayah, melihat dirinya, isteri dan anak-cucunya menjadi orang-orang yang teguh melaksanakan dan memperjuangkan ajaran Islam. satu kebahagiaan besar, apabila seorang ayah, menemukan dirinya, isteri dan anak-cucunya istiqamah di jalan Islam hingga akhir hayat.
Kanjeng Nabi Muhammad shollallaah ‘alaihi wa sallam bersabda:

لا يزال الله يغرس في هذا الدين بغرس يستعملهم في طاعته
Allah terus menerus menumbuhkan generasi di tengah (umat pemeluk) ajaran Islam ini, generasi yang Allah pakai untuk mentaati-Nya. (Shahih Ibnu Hibban)

Kanjeng Nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallam memiliki isteri sembilan (yang hidup di satu waktu) dan kesemuanya adalah muslimah pilihan yang Allah tinggikan derajat mereka. Puteri-puteri beliau yang tumbuh hingga dewasa pun, tampil menjadi muslimah bertaqwa dan menikah dengan manusia pilihan. Cucu-cucu Nabi pun menjadi pemuda-pemuda penghulu sorga.

Abu Bakar ash-shiddiq radhiyallaahu ‘anhaa, memiliki putera dan puteri yang bertaqwa. Asma, Abdurrahman, Aisyah, Muhammad dan Ummul Kultsum. Kemudian dari mereka lahir cucu cucu yang berkualitas, Abdullah bin Zubair, Urwah bin Zubair, Qasim bin Muhammad dan lai-lain. Bahkan Abu Quhafah yang buta dan sangat tua ayah dari Abu Bakar ash-shiddiq pun seorang shahabat Nabi.

Allah ta’ala berfirman:

(Yaitu) syurga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu. (Sambil mengucapkan): “Salamun ‘alaikum bima shabartum”. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu. (QS. ar-Ra’du: 23-24)

KESEDIHAN NABI NUH ‘ALAIHIS SALAAM

Sesudah Nabi Nuh ‘alaihis salaam dan para pengikutnya yang beriman diselamatkan dari banjir besar, beliau mengungkapkan kesedihan mendalam atas kematian sang anak Kan’an yang tidak beriman kepada Allah. Kesedihan yang muncul manusiawi seorang ayah yang kehilangan anak, bukan karena menolak takdir dan kebijaksanaan Allah. Melihat sang anak tenggelam, nabi Nuh berkata:

Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau Itulah yang benar. dan Engkau adalah hakim yang seadil-adilnya.” (QS. Hud: 45)

Imam al-Qurtuby menerangkan bahwa putera Nabi Nuh ‘alaihis salaam yang ditenggelamkan (Kan’ah) adalah orang yang memperlihatkan keimanan secara dhahir sedangkan bathinnya inkar kepada ajaran Allah.

Imam ibnu katsir rahimahullah menyampaikan bahwa ungkapan di atas adalah pertanyaan ingin tahu dan mengkungkap hakekat kecelakaan yang menimpa anaknya. Nabi Nuh mengatahui secara dhahir bahwa sang anak adalah orang yang beriman kepada dakwahnya tetapi rupanya sang anak hatinya inkar kepada ajaran Allah. Kenyataan itu pasti membuat sedih siapapun, terutama orang tua yang membesarkan anak hingga dewasa, tetapi ujungnya termasuk golongan orang-orang yang dihukum oleh Allah.

Maka Allah ta’ala kemudian mengingatkan nabi Nuh akan keadaan anaknya yang tidak beriman:

Allah berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan). Sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.” (QS. Hud: 46)

AGAR TETAP BERKUMPUL DENGAN ANAK-ANAK DI DUNIA DAN AKHIRAT

Bagaimana cara agar kita tetap dikumpulkan oleh Allah ta’ala bersama dengan anak keturunan di dunia dan akhirat dalam kebahagiaan? Allah ta’ala berfirman:

Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya. (QS. ath-Thuur: 21)

Ibnu Abbas radhiyallaahu ‘anhu menyampaikan “Sesungguhnya Allah pasti mengangkat derajat anak keturukan orang mukmin yang sama –sama beriman di satu derajat yang sama di sorga. Meskipun amalnya tidak menyerupai orang tua.” Atau sebaliknya, apabila orang mukmin memiliki anak mukmin yang beramal lebih tinggi darinya, maka derajat mukmin itu dinaikkan sejajar dengan derajat anaknya.

Imam ibnu katsir menukilkan sebuah riwayat: dari kanjeng Nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya apabila seseorang masuk sorga, dia bertanya tentang kedua orang tua, isteri dan anak-anaknya. Maka dikatakan kepada mereka, ‘Sesungguhnya mereka tidak sampai (kebaikannya) pada derajatmu.’ Maka orang itu berkata: ‘YA Rabbi, aku telah beramal untuk diriku dan mereka.’ Maka Allah perintahkan agar mereka dipertemuka (dalam satu derajat).” (HR. Tabrani)

SEHINGGA PILIHAN ORANG MUKMIN – HANYALAH: mendidik anak keturunan agar menjadi orang mukmin pula…

Semoga Allah mudahkan urusan dunia dan akhirat kita…

admin Fahrurozi Abu Syamil

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *