Menikah, bukanlah sekedar hubungan fisik yang diikat dalam akad nikah. Dia tidak hanya bermodal cinta belaka. Menikah adalah proses panjang dimana dua manusia saling belajar dan melangkapi untuk menjadi sepasang suami isteri yang baik. Karena pernikahan adalah menyatukan dua manusia dalam perjalanan panjang (bisa jadi sepanjang hayat di dunia) maka dibutuhkan kesamaan cara pandang dalam menghadapi berbagai masalah (meskipun tidak menuntut sama persis). Kesamaan cara padang dituntut agar proses menyelesaikan masalah keluarga, dapat diselesaikan dengan baik.

Sangat mungkin watak suami-isteri berbeda, yang satu pendiam yang lain banyak omong. Yang satu lebih realisitis pasangannya sangat perasa. Hidup berkeluarga tidak menuntut agar perbedaan demikian dihapus, tetapi yang dituntut adalah menyerasikan perbedaan itu agar dapat tetap menghadapi masalah dengan baik. Dan cara menyamakan persepsi suami – istri tidak mesti mengubah salah satu sifat (meksipun berubah menjadi lebih baik adalah amal sholeh besar), tetapi dengan menyatukan cara padang dan cara berpikir.

MERAIH KESAMAAN CARA PANDANG

  1. Langkah penting pertama adalah proses taa’ruf yang baik dan jujur. Dialog yang terjadi antara calon suami dengan calon isteri dilakukan dengan jujur dan terbuka, tanpa ada yang ditutup (kecuali aib yang tidak boleh diceritakan). Mengungkapkan watak, kebiasaan, sakit, hobi dan lain-lain. Informasi dapat juga diambil dari sumber orang orang terdekat calon pendamping hidup itu: teman, rekan kerja, tetangga dan lain lain. Di sinilah titik pertama seseorang menjajagi visi calon pendamping hidup. tujuan menikah, cita-cita dalam pernikahan, cara menyelesaikan masalah dan lain lain penting diajukan dalam masa ta’aruf…bukankah seseorang bersedia menikah dengan orang lain karena cara padang yang sama…??
  2. Langkah kedua adalah membangun komunikasi yang baik dalam pergaulan sehari-hari. HARUSNYA suami-isteri adalah TEMAN AKRAB di dalam rumah. Selalu bertegur sapa dan terlontar ucapan-ucapan sederhana. Sangat dibutuhkan untuk membangun komunikasi yang baik. Ucapan: “I love u,” “Sedang apa?,” “Mau aku bikinkan teh?” dan ucapan-ucapan semacam itu. Dalam hal ini dibutuhkan “kepandaian” suami / isteri di dalam mencari bahan pembicaraan. Bahan bisa di dapat saat berkendaraan, di kantor, membaca buku, koran dan lai-lain. Intinya, cari bahan pembicaraan hari itu sebanyak mungkin, nanti tinggal memilih mana yang mau dipakai. Sehingga, disuatu masa ketika (terpaksa) ada masalah, maka cara menyampaikan dan mencari solusi dapat dilakukan dengan mudah dan lancaaaar….Ada lho orang yang apabila diajak berbicara oleh si pendamping hidup, justru DIAM seribu basa….
  3. Langkah ketiga, jangan segan mengajak suami/isteri untuk berbicara berdua apabila keadaan serius dan masing-masing pihak siap menjadi pendengar yang baik. Pembicaraan serius, layaklah diambil di masa yang sama-sama ‘nyaman’. Jangan dilakukan di waktu yang tidak tepat . misal:
  • Saat kumpul bersama anak, karena banyak hal yang harusnya hanya diketahui oleh suami-isteri saja.
  • Pada saat (mohon maaf) berhubungan suami isteri. kisah ummu sulaim radhiyallahu ‘anhaa yang menahan berita kematian anak lelakinya kepada sang suami, Abu Thalhah radhiyallaahu ‘anhu pada waktu mereka berhubungan suami isteri. Hingga, ketika usai barulah Ummu Sulaim menceritakan musibah itu…

KETIKA PERBEDAAN MUNCUL DI TENGAH JALAN

Perbedaan visi kadang muncul di tengah jalan sebagian bagian dari ujian iman. Wajar saja, gesekan kehidupan dapat merubah siapapun. Yang penting perbedaan ini diimbangi dengan cara mengungkapkan yang baik dan tidak emosional.

Nabi Muhammad shollallaahu ‘alahi wa sallam pernah memiliki masalah dengan sebagian isteri beliau (silahkan lilhat asbabun nuzul QS at-Tahrim, salah satunya). dan Nabi TETAP menjadi orang yang menyenangkan bagi keluarga, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menyebutkan bahwa selama menjadi pembantu rumah tangga Nabi (kira-kira 10 tahun) tidak pernah mendengar nabi berbicara kasar. Setiap malam nabi selalu berbicang dengan para isteri beliau, sebelum akhirnya nabi menginap di rumah salah satunya.

Kalaupun toh kemudian cara pandang itu tetap berbeda, maka:

a. Apabila perbedaan itu dalam urusan yang tidak terlalu penting, salah satu pihak harus mengalah. Turunkan standar yang kita miliki dan salah satu pihak harus mengalah. Misal, pilihan tujuan rekreasi, warna baju, warna cat diding rumah dll.

Ingat kisah ketika nabi Muhammad shollallaahu ‘alahi wa sallam pulang ke rumah di waktu dhuha, sedangkan isteri belum memasak, beliau lebihmemilih puasa. Atau kisah beliau yang menyimpan kambing masak di rumah Aisyah radhiyallahu ‘anhaa. Dan hampir seluruhnya dishadaqahkan oleh Aisyah. Sehingga ketika Nabi pulang daging itu hampir habis (sedangkan beliau belum makan), maka beliau menghilankan kegundahan isteri dengan memuji perbuatannya.

Memang, bayangan pernikahan sering sangat berbeda dengan kenyataan yang dirasa. Dalam urusan demikian standar yang dimiliki dapat diturunkan, jangan terlalu idealis.

b. Apabila perbedaan itu muncul dalam hal yang penting, maka dikembalikan kepada ajaran Allah yang menjadi tonggak dasar rumah tangga Islam. (langkah ini harusnya telah menjadi kesepakatan di awal pernikahan). Pilihan terbaik adalah apa yang dipilihkan oleh Allah dan kedua belah pihak harus belajar lapang dada apabila menemukan kebenaran ada di suami/isteri.

Contoh: memilihkan sekolah anak, rezeki halal-haram, merubah kebiasan/aklaq yang buruk. dll

Apabila belum ada titik temu juga, dicari penengah (orang yang terpercaya oleh pihak suami/isteri) yang memahami Islam dan dimintai pendapat untuk menyelesaikan.

Dikisahkan Uqail bin abi thalib menikahi Fatimah binti Utbah bin Rabi’ah (tokoh Quraisy yagn mati dalam perang Badar). Setiap kali Uqail akan berkumpul dengan Fatimah, sang isteri selalu menanyakan (karena kesedihan hati ditinggal bapak dan paman yang mati dalam perang badar):

“Dimanakah Utbah bin Rabi’ah dan Syaibah bin Rabi’ah?”

Karena kesal selau ditanya begitu, Uqaih suatu saat menjawab:

“Apa aku harus masuk neraka untuk berkumpul denganmu?” sambil menarik baju Fatimah. Sehingga terjadi percekcokan keduanya.

Maka Utsaman bin Affan mengutus Muawiyah dan Ibnu Abbas untuk mendamaikan mereka berdua, sehingga akhirnya mereka berdua ruju’.

Kuncinya adalah tetap belajar menjadi pendengar yang baik dan merubah diri. Karena menikah adalah perkuliahan sepanjang hayat…

Kita belajar merubah diri, untuk siapa? Untuk Allah yang kita cintai, kemudian untuk orang terdekat yang selalu kita sayangi…

Semoga Allah berikan manfaat….

admin Fahrurozi Abu Syamil

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *