Oleh Rappung Samuddin

Kisah Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyah yang berdemo bersama Syaikh Al-Fariqi dan Massa yang sangat banyak untuk menuntut ‘Assaf seorang Nashrani yang menghina Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, sebagaimana diceritakan Al-Hafidz Ibnu Katsir dalam kitabnya “Al-Bidayah wa An-Nihayah” 17/665-666, seakan menjadi cambuk dan hujjah atas mereka yang mengharamkan demo secara mutlak tanpa mentafshil (merinci).

Bagaimana bisa Imam yang selama ini menjadi qudwah dan panutan, ternyata juga pernah bangkit bersama Massa melakukan “Aksi Damai Membela Kehormatan Nabi SAW”? Sementara fatwa yang selama ini memenuhi kepala mereka bahwa Demo itu haram, tasyabbuh bil kuffar, dan sebagainya?

Padahal, jika di balik kondisinya, yang seharusnya heran itu Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyah. Bagaimana bisa Alqur’an dan Ulama kalian dilecehkan dan dihina, lalu kemudian kalian hanya diam, bahkan ikut-ikutan melemahkan ghirah saudara-saudara kalian yang menuntut keadilan hukum atas pelaku penghinaan itu?!

Sungguh menyedihkan memang. Bahkan dalam situs (Muslim.or.id), dipublish tulisan salah seorang Ustadz terkait kisah ini, dan apa yang dapat ditarik berupa pelajaran darinya. Kelihatan sekali sangat dipaksakan dan terkesan tidak mengerti kondisi dan keadaan.

Tidak usah ana paparkan keseluruhan poin yang diutarakan. Silahkan disimak sendiri saja. Yang ingin ana garisbawahi di sini adalah poin ke-3. Penulisnya berkata: “Dalam kisah tersebut, tidak disebutkan bahwa Ibnu Taimiyah dan Al Fariqi lah yang mengerahkan massa. Namun keduanya pergi diikuti banyak orang yang juga sama sama ingin mengadukan si pencela Nabi kepada penguasa”.

Dapat kami sanggah:

1. Yang menjadi ‘ibrah (perhatian) pada kisah ini adalah keluarnya Ibnu Taimiyah bersama orang yang sangat banyak untuk menyampaikan sebuah keberatan dan tuntutan, dan ini merupakan makna Demonstrasi secara Istilah. Bukan apakah beliau yang memobilisasi dan mengumpulkan Massa atau tidak.

2. Tidak ada yang pernah katakan, bahwa yang disebut Demo atau Aksi Massa itu disyaratkan harus ada yang mengumpulkan atau memobilisasi. Atau. kalau kumpulan massa yang tidak dimobilisasi dan berkumpul untuk mengajukan tuntutan atau keberatan, tidak dikatakan sebagai Demonstrasi. Dari sini jelas, bahwa juga Syaikh Al-Islam berdemonstrasi.

3. Tidak tepat jika langsung menarik kesimpulan dari kisah yang diceritakan oleh Ibnu Katsir ini, yang pastinya beliau ceritakan sebatas apa yang beliau saksikan dan hapal dari peristiwa Demonstrasi Ibnu Taimiyah di atas. Kesimpulan di atas bisa dibenarkan, jika memang di tempat lain dari karya-karya beliau, ada keterangan bahwa beliau mengharamkan Demonstrasi atau mengharamkan mengumpulkan Massa untuk menyalurkan aspirasi. Jika tidak, maka dibiarkan apa adanya, dan ada kemungkinan beliau termasuk yang mengerahkan Massa. Semua ada ihtimal padanya.

4. Kalau memang zat Demonstrasi itu mungkar, sudah pasti Ibnu Taimiyah akan mengingkari mereka yang ikut bersama beliau. Mungkin saat itu beliau akan berkata: “Afwan, saya tidak mengumpulkan kalian. Demo ramai-ramai itu tidak boleh atau haram. Tolong silahkan bubar, biar saya berdua dengan Al-Fariqi yang menghadap Sulthan”. Tapi kenyataannya, beliau tidak mengingkari perbuatan orang yang sangat banyak itu untuk mengikuti beliau.

5. Secara Waqi’ (realita), bagaimana bisa manusia yang begitu banyak bisa berkumpul dalam satu waktu untuk satu tuntutan yang sama kalau tidak ada yang memobilisasi atau mengumpulkan? Orang yang punya pengalaman akan hal ini pasti tersenyum kecut kala membaca pernyataan ini. Sebab untuk mengumpulkan Massa yang sangat banyak butuh waktu untuk konsolidasi dan memobilisasi. Dan Mustahil Ibnu Taimiyah tidak mengetahui adanya konsolidasi tersebut.

admin Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *