Syarat boleh membicarakan manusia adalah ilmu, takwa, rasa malu, dan wara’
Beberapa waktu lalu, seorang di friend list saya membagikan satu postingan entah siapa, yang jelas ia mengaku penuntut ilmu dan seorang salafy, label ini ia sandangkan pada dirinya melalui akunnya itu. Postingan tersebut tegas sekali maksudnya, yakni hendak membantah pernyataan yang disandarkan kepada Ali al-Jufry. Tentu penuntut ilmu tahu siapa orang ini.

Di sana dibawakan sebuah gambar atau poster yang di dalamnya dikatakan bahwa al-Jufry mengatakan bahwa Rasulullah shalalahu alaihi wasallam bersabda, “Empat golongan yang aku menjadi syafi’-nya pada hari kiamat; 1) Orang yang memuliakan keturunanku, 2) Orang yang memenuhi kebutuhan mereka, 3) Orang yang menolong mereka dalam urusan-urusan mereka ketika mereka kesulitan, serta 4) Orang yang mencintai mereka dengan jiwa dan lisannya”. Di dalam poster tersebut jelas sekali al-Jufry menisbatkan hadits ini kepada al-Suyuthy dalam salah satu kitabnya.
Lalu si pengaku penuntut ilmu dan salafy ini secara keras menulis bantahannya yang tampak lebih layak dikatakan sebagai serangan kepada al-Jufry. Ia menuduh al-Jufry berdusta atas nama Rasulullah dengan hadits yang ia bawakan ini. Hebatnya lagi, rijal ini membawakan hadits Abu Hurayrah yang masyhur yang ditakhrij oleh al-Bukhary dan Muslim dengan redaksi yang mengandung kesalahan dalam riwayat Muslim, terkait tujuh golongan yang dinaungi Allah pada hari kiamat. Tentunya dengan ungkapan pendahuluan “Padahal yang benar” atau semakna dengan itu.

Dari sini tampak kebodohan orang ini.

  1. Ia menuduh al-Jufry berdusta atas nama Nabi, bahkan menuduhnya menghalalkan kedustaan atas nama beliau yang mulia dengan hadits yang dibawakannya tersebut.
    Padahal al-Jufry hanya menukil dari kitabnya al-Suyuthy. Apa yang dibawakan al-Jufry benar adanya, hadits tersebut disebutkan oleh al-Suyuthi dalam kitabnya Ihya’ al-Mayyit bi Fadhli Ahli al-Bayt, cetakan Dar al-Madinah al-Munawwarah. Naskah pada saya cetakan tahun 1420 H. Buku ini tercatat pada Katalog Maktabah Malik Fahd.

Sehingga tuduhannya terhadap al-Jufry jelas salah alamat. Kalau pun ia hendak menuduh orang yang membawakan hadits ini berdusta, tentunya al-Suyuthy lebih layak dengan tuduhan tersebut, bahkan al-Daylamy, karena al-Suyuthy sendiri membawakan hadits ini dengan mengatakan “Ditakhrij oleh al-Daylamy dari ‘Aly radhiyallahu ‘anhu. Lebih dari itu, al-Thabary pun membawakan hadits ini dalam Dzakhair al-‘Uqba.

  1. Ia mengingkari hadits ini, tentunya dengan kebodohannya, dengan empertentangkannya dengan hadits Abu Hurayrah. Apa kaitannya? Karena redaksi hadits ini tidak sama dengan redaksi hadits Abu Hurayrah? Metode dari mana? Jelas dua hadits ini adalah hadits yang berbeda baik dari sisi kandungan, demikian pula rawi.
    Saya tidak ada urusan dengan al-Jufry, jauh sebelum ini saya pun tahu siapa al-Jufry. Yang menjadi maslah adalah munculnya orang-orang yang memiliki syahwat berbantah-bantahan yang terlalu besar, mengalahkan ilmu dan rasa malunya. Celakanya lagi mereka ini melabeli diri mereka dengan salafy yang seakan menjadi representasi salafiyun di hadapat orang2 yang sama dan lebih jahil darinya. Hal ini tentunya menjadi senjata empuk orang-orang hasad dan mereka yang memusuhi salafiyun, seakan salafy-wahaby itu isinya adalah orang-orang dungu yang tidak nyambung seperti ini. Masalah yang lain adalah hal semacam ini lewat di berada fb saya. Nyampah.

Jika tidak setuju denga suatu kelompok atau orang, lalu ingin membantahnya, bantahlah secara ilmiah. Hadits yang dibawakan al-Jufry itu dha’if, ya dha’if, maka buktikan kecacatan hadits tersebut. Selesai. Apa faidahnya menuduh orang berdusta, padahal ia menukil apa adanya dari ulama terdahulu? Perlu diketahui, al-Suyuthi tidak memberikan penilaian terhadap hadits tersebut.

Hal yang serupa dengan ini;
Beberapa waktu lalu, sebelum atau sesudah cerita diatas, ada seorang yang juga mengaku penuntut ilmu, melontarkan tuduhan ini dan itu kepada Dr. Budi Ashari. Bahwa manhaj beliau rusak, tukang buat syubuhat, syubuhatnya halus, bahkan tuduhan yang lebih ajaib bagi saya, ia mengatakan sang doktor berdusta atas nama Ibnu Taymiyah terkait perayaan maulid.
Terang saja saya tanyakan apa syubuhat yang beliau sebarkan, dan buktikan kalau beliau berdusta atas Ibnu Taymiyah.
Sampai ia kabur, dua hal itu tidak pernah ia buktikan.

Orang-orang seperti ini dengan beraninya menisbatkan dirinya kepada ilmu dan salaf bahkan, namun sama sekali tidak hidup dengan rasa malu dan rasa takut pada Allah. Apakah mereka mengira tuduhan-tuduhan terhadap manusia, bahkan ucapan-ucapan terhadap manusia itu ringan urusannya atau bahkan tidak dipertanggungjawabkan? Allahul musta’an.

Saya menduga tuduhannya kalau sang doktor tukang sebar syubuhat dan berdusta atas Ibnu Taymiyah itu adalah satu paket, artinya itu dua hal yang satu terkait satu permasalahan yang sama. Wallahu a’lam, saya juga tidak mengikuti durus sang doktor, dan si penuduh tidak tahu malu ini pun sampai akhir tidak menyebutkan syubuhat apa yang ia maksud selain yang ia tegaskan “sang doktor berdusta atas ibnu taymiyah”.

Tuduhan ini pun sejatinya tidak ia jelaskan poin2nya. Saya memintanya untuk menguraikan, Ibnu Taymiyah mengatakan apa? Lalu sang doktor mengatakan apa? Sama sekali tidak ia jawab.

yang tampak bahwa dalam salah satu video dengan format bincang santai, sang doktor meluruskan sikap sebagian orang yang murah dan lancang dalam menvonis saudara muslimnya terkait hal-hal yang ia tidak setujui. Dalam hal ini terkait perayaan maulid, dimana ada sebagian orang awam pengaku penuntut ilmu yang dengan mudahnya menvonis mereka yang merayakan maulid sebagai seorang mubtadi’ yang berhak dengan neraka.
Ini poin beliau dalam videonya tersebut.
Terlepas penontonnya setuju atau tidak dengan kesesuaian antara realita dengan point beliau ini. Tapi yang jelas saya sendiri menyaksikan langsung adanya orang-orang semacam itu.
Di sana beliau menasihati untuk jangan bersikap demikian. Lalu beliau memberikan nasihat dengan mengambil pelajaran dari sikap Ibnu taymiyah terhadap mereka yang mereyakan maulid. Beliau menukilkan langsung dari Iqtida’ Sirath al-Mustaqim.

Apa maslahnya di sini? Sejatinya tidak ada masalah.
Tapi bagi mereka yang bermasalah dalam mendengar dan membaca, juga memiliki penyakit dalam hatinya ini menjadi masalah.
Dikesankan bahwa Dr. Budi membolehkan perayaan maulid bahkan dikesankan kalau beliau menisbatkan kebolehan ini kepada Ibnu Taymiyah.

Dua hal ini cukup untuk mempertanyakan dimana rasa malu dan rasa takut mereka terhadap Allah terkait hak seorang muslim.
Ini pelakunya tidak ada di fl saya. Namun kemarin hal yang sama dilakukan oleh seorang di fl saya. Allahu akbar. Ketika ditanyakan dan diisyaratkan ketidak nyambungannya, bukannya memperhatikan ulang, tapi subhanallah, menegak benang basah.
Benar di luar sana ada sekelompok orang yang menjadikan ucapan Ibnu Taymiyah sebagai dalih bolehnya merayakan maulid. Bahkan sebagian mereka tanpa malu mengatakan kalau Ibnu Taymiyah membolehkan perayaan maulid.
Tapi, dimana poin ini dapat disimpulkan dari dialog Dr. Budi yang dimaksud? Saya tanyakan ini, terbukti mereka tidak mampu mendatangkan burhan apa pun, bahkan yang paling lemah sedikit pun.
Kawan, saya tidak ada urusan dengan Dr. Budi, beliau tidak kenal saya, saya tidak kenal beliau. Urusan saya dengan kalian yang statusnya lewat di beranda saya yang isinya kalaian sedang menuduh dengan tuduhan palsu terhadap seorang muslim. Hanya itu urusan saya sehingga saya komentari apa yang saya lihat.
Syahwat berbantahan itu seharusnya dibangun atas dasar ilmu dan ketakwaan serta sikap wara’.
Dimana itu semua kalian tempatkan. Orang yang kalian bicarakan adalah seorang muslim, bahkan jika ia kafir sekali pun semisal yang paling awal itu, tidak halal bagi seorang muslim untuk berbuat zhalim.
Terlebih kalian menisbatkan diri pada ilmu. Dimana ilmu yang kalian maksud?
Jargon ilmu sebelum berucap dan berbuat itu kalaian buang di tempat sampah mana?
…….
Malulah dan takutlah pada Allah. Jangan jadikan orang semisal Hanafi Ahmad sebagai teladan, yang ia memang jelas tidak memiliki hal itu. Dia termasuk yang berlagak hendak membantah video tersbut dengan menukil fatwa Ibnu Baz terkait orang yang mengatakan bahwa Ibnu Taymiyah membolehkan bahkan memustahabkan perayaan maulid. Dari sini tampak akalnya yang konslet. Ibnu Baz berbicara tentang satu permasalahan, dan orang yang kalian bicarakan itu bicara tentang hal yang lain.

nasihat saya, segera minta dihalalkan oleh yang bersangkutan sebelum kesempatan kalian hanya ketika di hadapan Allah. Kecuali memang jelas terbukti apa yang kalian tuduhkan.
والله هو الهادي إلى سواء السبيل وهو يعلم بالمخلصين

Abu Muhammad Al-Malawi

admin Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *