Serial Kajian Malam Jum’at, 11 Februari 2016, di Masjid Raya Ar Rasul, Yogyakarta.

Dalam segala situasi dan kondisi, umat Islam wajib memurnikan, mempertahankan, serta mengamalkan aqidah tauhidnya, seperti dilakukan Ashabul Kahfi.

Firman Allah: “Kami teguhkan hati mereka ketika berkata di hadapan penguasa yang zhalim. Mereka berkata: “Tuhan kami adalah Tuhan penguasa langit dan bumi. Kami tidak akan menyembah tuhan-tuhan selain Allah. Karena kalau kami mengatakan bahwa ada Tuhan selain Allah, berarti kami berkata dusta.” (QS Al-Kahfi (18) : 14)

Inilah contoh sejarah, tentang konsistensi 7 orang pemuda beriman yang dikenal dengan Ashabul Kahfi, dalam mempertahankan aqidahnya agar tidak tergerus oleh paham jahiliyah yang berkembang di nasyarakat dan menjadi ideologi penguasa. Aqidah tauhid, tdak sekedar keyakinan yang bersifat normatif, bahwa “Tidak ada Tuhan selain Allah.” Tapi keyakinan normatif itu haruslas diimplementasikan dalam bentuk sikap, “Kami tidak akan menaati tuhan-tuhan selain Allah.”

Menolak taat dan tunduk pada perintah selain Allah, itulah prinsip tauhid. Jika hanya menyembah Allah dalam pengertian ritual saja, orang kafir bisa toleran dengan alasan kebebasan, dan menghormati hak asasi manusia. Akan tetapi, jika konsekuensi aqidah tauhid yang diamalkan Ashabul Kahfi, “menolak aturan hidup, budaya, tradisi, ideologi yang bertentangan dengan hukum Allah.” Orang kafir pasti tidak setuju.

Keyakinan inilah yang tidak dikehendaki penguasa zamannya. Penguasa memaksakan supaya hanya dialah yang ditaati. Rakyat hanya boleh tunduk dan patuh pada uturan dan undang-undang negara yang dibuat penguasa. Untuk menggiring para pemuda beriman ini supaya tidak menaati Allah melainkan tunduk hanya pada penguasa negeri, mereka menggunakan segala muslihat, intimidasi, dan teror. Mengharuskan untuk taat pada selain Allah, inilah yang ditentang oleh Ashabul Kahfi.

Persoalan ketaatan, loyalitas pada apa dan siapa harus diberikan, inilah inti masalah yang dihadapi kaum muslimin sepanjang sejarah. Beriman pada Allah, konsekuensinya wajib tunduk, patuh pada syariat Allah, yaitu berpegang teguh pada Alqur’an dan Sunnah Rasulullah Saw. Baik dalam urusan ritual keagamaan maupun dalam menyelenggarakan kekuasaan pemerintahan negara. Kompromi dengan orang kafir untuk mengingkari hukum Allah, dengan alasan budaya, kerukunan beragama di bawah naungan demokrasi, adalah kekafiran, dan haram dilakukan kaum muslim.

Resikonya, dimusuhi masyarakat dan ditindas penguasa kafir dan zalim. Kondisi inilah yang dihadapi pemuda Kahfi, betapa biadab pengyasa kuffar menindas kaum mukmin.

Kebencian penguasa zhalim terhadap orang beriman digambarkan dalam firman Allah Swt: “Sesungguhnya jika para penguasa kafir menemukan kalian, pasti akan merajam kalian atau mengembalikan kalian kepada agama orang-orang kafir itu. Kalau sampai terjadi begitu, kalian tidak akan beruntung untuk selama-lamanya.” (QS Al-Kahfi (18) : 20).

Ayat ini merupakan gambaran masyarakat dan penguasa jahiliyah yang tidak menghendaki berlakunya syariat Iskam melalui kekuasaan negara.

Apa kesalahan pemuda beriman ini sehingga harus dikucilkan dari kehidupan sosial masyarakat, diintimidasi, dizalimi dan dipaksa tunduk pada kehendak penguasa? Mereka bukan pemuda jahat, bukan pengusung LGBT, bukan penzina, pemabuk, dan bukan juga pengusab narkoba. Mereka juga tudak menyerukan pemberontakan, tidak juga mengganggu keamanan negara, bahkan tidak mengusik ketenteraman warga. Mereka hanya berdakwah, supaya masyarakat tidak bertambah rusak, dekadensi moral tidak kian merajalela, kemaksiatan dan kemungkaran tidak menjadi kebiasaan dan tradisi masyakat, maka berimanlah pada Allah. Laksanakan perintah Allah dan jauhi laranganNya.

Jumlah pemuda beriman ini juga tidak banyak, hanya 7 orang saja. Tetapi penindasan penguasa luar biasa kejamnya dan sikap masyarakat juga lebay. Sikap buruk ini membuktikan satu hal: sekecil apapun potensi keimanan, dan sikap konsisten dengan ajaran Allah dan Rasulnya, tetap saja dimusuhi. Jika tidak mau berubah, ikut arus budaya maksiat, toleran dengan kesesatan dan kekafiran. Resikonya, dimusuhi, dirajam, dipenjara.

Kaum muslimin patut belajar pada sikap mental Ashabul Kahfi, bagaimana memelihara dan melestarikan aqidah tauhid dari ancaman dan intimidasi penguasa kafur dan zalim. Mempertimbangkan keselamatan dan keuntungan duniawi dan mengorbankan aqidah adalah pertimbangan jahiliyah. Sayangnya, inkonsistensi dan pilihan jahiliyah inilah yang sering menjerumuskan orang Islam.

Sejarah membuktikan, ketika komunisme ditawarkan sebagai ideologi negara RI yang dikemaskan dalam bentuk sinkretisme Nasakom, banyak ormas dan parpol Islam beramai-ramai mendukung. Begitupun, ketika Asas tunggal pancasila dijadikan sumber dari segala sumber hukum di Indonesia, berbondong-bondong para kyai, ustadz, muballigh mendukung ideologi sesat ini.

Di zaman kita sekarang, tidak kalah hebatnya intimidasi, stigmatisasi penguasa kafir. Sehingga sejumlah ormas yang didukung kyai, habaib, merusak keyakinan umat Islam. Mereka mengydung paham baru yang dusebut islam nusantara yang berbeda dengan Islam Arab. Tidak itu saja, segala paham sesat, seperti syiah, ahmadiyah, gafatar, semakin leluasa merusak moral dan keyakinan Uslam. Bahkan prilaku munkar dan menjijikkan seperti lesbianisme, homoseks, dipropagandakan melalui seminar, televisi, media massa, sosmed. Di tengah kerusakan ini muncul komentar Menteri Agama Lukman Hakim Saufuddin, bahwa agama hanya berguna untuk mengoreksi diri sendiri bukan mengireksi orang lain. Menag ini, karena kebodohannya memosisikan agama menurut kehendaknya sendiri, bukan menurut kehendak Allah yang menciptakan agama itu. Dimasa kepemimpinan Menag LHS inilah, sekte sesat syiah mendapat fasilitas menggunakan gedung Kemenag untuk acara dan ritual mereka. Di masa dia pula penari penari jahiliyah diundang dalam acara peringatan ulang tahun, yang kemudian heboh “penari di atas sajadah.”

Sebelumnya para perusak agama ini menyerukan kesesatan bahwa semua agama sama benarnya, jangan ada yang merasa agamanya paling benar. Bahkan belum lama ini, ada tokoh yang ingin cari sensasi Nasdar F Masudi mengatakan, “tidak hanya orang Islam yang akan masuk surga, umat agama lain juga bisa masuk surga.” Surga milik Alkah, bukan punya dia, lalu apa haknya menentukan siapa yang berhak atau tidak berhak jadi penghuni surga?

Untuk mempertahankan aqidah dari gangguan orang kafir dan munafiq, kaum muslim harus sabar dan tetap istiqamah. Jangan ikut menjadi perusak atau diperalat merusak ajaran Islam. Memihon kepada Alkah seperti doa Ashabul Kahfi:

“Wahai Tuhan kami, tetapkanlah hati kami dalam Islam dan berikanlah jalan keluar kepada kami dalam menyelesaikan urusan kami.” (QS Al-Kahfi (18) : 10)

Sekalipun Al Kahfi bersikap pasif dalam pertahankan aqidahnya, tapi Allah merahmati mereka, karena istiqamah dalam keimanan. Inilah salah satu pedoman menghadapi upaya orang kafir, munafiq, liberal merusak Islam dan melemahkan kaum muslim.

Narsum: Al Ustadz Muhammad Thalib
Notulen: Irfan S Awwas

admin Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *