KATANYA “SALAFI”…

Katanya “Salafi”,
tapi lebih sibuk mencari aib orang lain
dan (pura-pura) lupa dengan aib sendiri!

Katanya “Salafi”,
tapi lebih sibuk “menyalafikan” tampilan
dan (pura-pura) lupa hati adalah inti!

Katanya “Salafi”,
tapi gayanya persis Ahli Bid’ah.
Beda pendapat sedikit langsung tahdzir.
Beda pandangan sedikit langsung pecah.

Katanya “Salafi”,
tapi pasal “tahdzir-menahdzir” dengan sesamanya
kini entah sudah berapa “firqah” sahaja…

Katanya “Salafi”,
tapi lebih aktif gerilya di medsos
lalu (pura-pura) lupa baca al-Qur’an masih tergagap-gagap!

Katanya “Salafi”,
tapi hatinya keras seperti batu:
tidak punya perikemanusiaan dan simpati
pada saudara muslim yang terzhalimi,
alasannya beda manhaj!

Katanya “Salafi”,
lalu dikiranya hanya dengan klaim “Salafi”
serta-merta ia menjadi “Tha’ifah Manshurah”!

Katanya “Salafi”:
tapi hatinya penuh nafsu syahwat,
sebebasnya nge”chat” akhawat,
alasannya: “…mau didakwahi agar tidak sesat!”

Katanya “Salafi”:
tapi urusan bisnis tak lagi peduli,
harta orang lain dipakai sesuka hati,
seperti tak takut adzab akhirat yang ngeri.

Katanya “Salafi”:
tapi “hizbi”nya nggak ketulungan!
Yang benar Tuan Ustadznya doang.
Kalau engkau sudah dibencinya,
maka bencinya sampai ke tulang sum-sum.
Dia (pura-pura) lupa:
kalau Ahlussunnah punya “al-Wala’ wa al-Bara’”…

(Kalau tidak ngerti, belajar dulu sana!)

Katanya “Salafi”:
tapi soal menuduh “bid’ah” gampangnya luar biasa.
Dia (pura-pura) lupa:
Terlalu gampang menuduh “bid’ah” itu
sebelas-duabelas saja dengan gampang menuduh “kafir”!
Lho, kenapa Ente lama-lama jadi mirip Khawarij?

Katanya “Salafi”:
tapi pergi ngaji cuma buat gaya doang.
Hadir dengan gaya “pendekar tangan kosong”.
Pergi menuntut ilmu tanpa bawa “senjata”.
Ustadz menjelaskan bawaannya ngantuk.
Giliran Ustadz mulai “mentahdzir”,
matanya langsung segar, hatinya berbunga-bunga!

Akhirnya,
mengaku “Salafi” itu berat, Kawan…
Kita hanya benar-benar mengaku-ngaku saja.
Karena kita takkan mungkin menjadi persis seperti mereka:
seperti Generasi al-Salaf al-Shalih yang mulia.
Kita ini ibarat “seorang pencuri hina” dibanding mereka.

Jadi,
Jangan jumawa kalau cuma menyemat “al-Salafi” di ujung namamu!
Jangan belagu kalau baru “sekedar” mengkaji kitab Salaf!
Jangan songong kalau baru “sekedar” bercelana cingkrang!
Jangan takabur kalau baru “sekedar” berniqab!
Jangan kepedean kalau baru “sekedar” mengurai janggutmu!

Itu baru sepersekian puluh bagian dari “Kesalafiyan” kita.
Karena kita adalah hamba yang payah…

admin Muhammad Ihsan Zainuddin