FATWA IMAM MALIK YANG WARBIYASAH

Suatu ketika di kota Madinah Al-Munawwaroh meninggal seorang wanita yang berprofesi sebagai pelacur. Dan jenazahnya pun di urus sesuai prosesi pengurusah jenazah sebagaimana mestinya.

Saat proses pemandian jenazah, dimandikanlah mayit tersebut oleh seorang wanita (tukang mandiin mayit). Dan saat dia membersihkan tubuh si mayit di bagian (maaf, kemaluan). Ia berujar, “Ntah berapa kali kau gunakan ini untuk bermaksiat kepada Allah”
Dan Subhanallahu, saat itu pula tangan wanita lengket tak bisa lepas.

Madinah pun heboh, kabar begitu cepat menyebar. Viral, istilah kita hari ini. Para Ulama kota nabi didatangkan untuk dimintai fatwanya. Ada yang berpendapat tangan wanita harus dipotong, ada juga yang berfatwa tubuh si mayit harus di sobek. Dll.

Tersisa satu yang belum mengemukakan pendapatnya, yaitu Imam Malik Rahimahullah. Setibanya di TKP, dan mendapat keterangan yang cukup atas peristiwa yang terjadi, beliau pun mengeluarkan fatwanya.

“Wanita ini harus di cambuk 80 kali, karena ia telah melakukan qodzaf (menuduh wanita berzina tanpa menghadirkan 4 saksi)”
Wanita itu pun dicambuk sesuai had yang termaktub dalam surat An-Nur, dan Biidznillah lepaslah tangan wanita itu. Kemudian muncul sebuah selogan ” Laa yufta, wa Malik Fil Madinah” Jangan berfatwa, jika Malik ada di Madinah”


Bahkan Allah menegur saat seorang mayit yang dituduh tanpa bukti, meski selama hidupnya ia melacurkan diri. Lantas adzab apa yang akan Allah beri untuk tuduhan keji tanpa bukti, apa lagi tuduhan atas para ulama pewaris nabi? Wallahu a’lam bissowab.

Fadjar Jaganegara, Bumi Pertiwi.
_
Sumur galian : Biografi Imam Malik : Abdurrahman Asy-Syinawi

admin Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *