Persaudaraan Islam adalah ajaran mulia yang mahal harganya. Persaudaraan Islam adalah ikatan persaudaraan yang dilandasi akan keimanan kepada Allah. sehingga orang-orang mukmin menjadi saudara hakiki, dunia dan akhirat. Orang yang miskin tidak kehilangan tempat di hadapan orang kaya karena iman, orang berkulit hitam tidak kalah mulia dengan yang berkulit putih karena iman. Dia mengalahkan hubungan darah, yang terputus dengan kematian, atau hubungan kedaerahan yang terhapus apabila orang berganti tempat tinggal.  
Allah ta’ala menegaskan persaudaraan Islam dengan berfirman:
Sesungguhnya hanya orang-orang beriman yang bersaudara. Oleh sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.
(QS. al-Hujurat: 10)
Ikatan iman ini adalah ikatan yang langgeng, bertahan dunia dan akhirat. Ketika hubungan darah kadang hanya sampai di dunia saja (yaitu ketika salah satunya beriman kepada Allah sedang yang lain ingkar kepada ajaran-Nya).
SIFAT MUSLIM ADALAH MENYAYANGI SESAMA MUSLIM
Allah ta’ala mensifati orang orang yang menjadi pengikut setia Rasulullah Muhammad shollallaahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang yang bersikap lemah lembut terhadap sesama mukmin dan bersikap tegas kepada orang-orang kafir. Allah ta’ala berfirman:
Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. …
(Qs. al-Fath: 29)
Dalam firman Allah ta’ala yang lain disebutkan:
Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir….
(QS. Al-Maidah: 54)
Rasa kasih sayang yang dilandasi oleh keimanan kepada Allah, yang menjadikan kaum muslimin berdiri penuh kekuatan, saling menolong, saling membela dan menjaga. Persaudaraan iman adalah persaudaraan tulus yang tidak mengharap balasan di dunia kecuali semakin eratnya persahabatan dan persaudaraan iman mereka. Allah berfirman:
Itulah (karunia) yang (dengan itu) Allah menggembirakan hamba- hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh.
Katakanlah: “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan”. 
(QS. Asy-Syuura: 23)
Ikatan iman menjadikan sesama muslim sanggup mengorbankan dunia yang dimiliki untuk menjaga kehormatan atau nyawa saudara muslim yang lain. Rela berlela dan berpayah-payah demi menjaga kemuliaan saudara muslim yang lain.
المؤمن للمؤمن كالبنيان، يشد بعضه بعضا
Seorang mukmin dengan mukmin yang lain bagaikan satu tubuh, saling menguatkan satu dengan yang lain.
(Shahih Bukhari-Muslim)
MENJAGA PERSAUDARAAN DENGAN SALING MEMAAFKAN
Tidak ada manusia yang tidak memiliki kesalahan, hanya para nabi saja yang ma’shum dari kesalahan. Demikian pula, orang-orang mukmin pun memiliki kesalahan. Kadangkala sikap mereka tidak disukai oleh saudar amuslim yang lain. Keadaan ini sering kali menjadi celah yang dipakai oleh syetan untuk merenggangkan persaudaran iman. oleh karenanya Allah ta’ala mengingatkan agar orang-orang yang beriman berhati-hati dengan jerat syetan yang sanggup merenggangkan persaudaraan.
Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.”
(QS. al-Isra: 53)
Memaafkan kesalahan muslim yang lain, menjadi salah satu tiang pilar yang menjaga keutuhan barisan kaum muslimin. demikian yang dilakukan oleh Hasan bin Ali bin Abi Thalib radhiyallaahu ‘anhumaa dengan Muawiyah bin Abi Sufyan radhiyallaahu anhumaa setelah terbunuhnya Ali sebagai syahid. Mereka berdua saling memaafkan apa yang terjadi pada perang Shiffin dan Hasan rela menyerhakan kekuasaannya kepada Mu’awiyah demi menyatukan barisan kaum muslimin. 
Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda 
من سره أن يُشْرَف له البنيان، وترفع له الدرجات فَلْيَعْفُ عمن ظلمه، ويعط من حرمه، ويَصِلْ من قطعه
Barangsiapa yang ingin bangunannya dimuliakan, derajatnya ditinggikan hendaklah dia memberikan maaf kepada orng yang mendzaliminya-melarang haknya-memutus silaturrahim dengannya.
(HR. Hakim: shahih dengan syarat bukhari-muslim)
Demikian pula yang dikerjakan oleh junjungan kita ketika Fathu Makkah, dengan memaafkan kaum Quraisy yang menjadikan mereka masuk Islam dengan sukarela, sehingga barisan kaum muslimin semakin kuat.
SALING MEMAAFKAN DALAM DAKWAH
Keterpurukan Islam yang dialami saat ini menjadikan banyak umat Islam bangkit dan berjuang untuk memuliakan Islam kembali. Mereka yang berjuang ini berangkat dari berbagai latar belakang berbeda-beda. Perbedaan ini yang kadang kala menimbulkan gesakan antra sesama aktivis dakwah, ditambah lagi mereka beramal di wilayah yang sama. Gesekan kecil yang tidak segera dihentikan, sering menimbulkan bara api yang membesar. “Berebut” masjid, dukungan massa atau calon kader, adalah beberapa masalah yang sering terjadi di lapangan dakwah. Dibutuhkan sikap lapang dada untuk mensikapinya.
Contoh utama diperagakan oleh murid-murid didikan Rasulullah Muhammad shollallaahu ‘alaihi wa sallam. dikisahkan pada waktu perselisihan antara barisan Ali bin Abi Thalib dengan barisan Mu’awiyah semakin memuncak, hal itu dimanfaatkan oleh kaisar Romawi untuk mengambil keuntungan. Dia mengirimkan utusan kepada Mu’awiyah uang bekerja sama mengalahkan Ali bin Thalib. Tetapi bujukan itu ditolak dengan keras oleh Mu’awiyah, dengan marah Mu’awiyah menyatakan: “Wahai orang terlaknat, demi Allah. apabial engaku tidak meninggalkan cara berpikir seperti ini  dan tidak kembali ke neeri kalian, aku akan bersatu dengan anak pamanku (ali bin abi Thalib) memerangimu dan mengusirmu dari seluruh negerimu serta mempersempit bumi bagimu.” Akibatnya, kaisar Romawi ketakutukan dan tidak berani mencoba mengusik wilayah kaum muslimin.
Sikap saling memaafkan terhadap berbagai perbedaan yang muncul di tengah lapangan dakwah harus didahulukan. Tujuannya, demi menjaga keutuhan barisan kaum muslimin sehingga umat tetap dalam kondisi kuat. 
Letaknya ada pada semangat persaudaraan dan kerukukan antara aktivis dakwah, sehingga apabila terjadi permasalahan di lapangan diselesaikan dengan cara persaudaraan (jangan dimaknai dengan membiarkan keburukan dan kesalahan terus berlangsung). 
SIKAP MENGHADAPI PERBEDAAN YANG NYATA DOSA
Pada aktivis dakwah kadang menemukan aktivis gerakan dakwah lain melakukan perbuatan amal atau perbuatan yang nyata-nyata menyeleweng dari ajaran Islam . apa yang harus dilakukan? Merubah dan menluruskannya dengan sikap yang santun dan lembut, karena sikap itu lebih mudah diterima oleh hati yang lurus dan bersih. 
Bahkan Allah ta’ala memerintahkan kepada Nabi Musa dan Harun ‘alaihimas salaam agar menasehati Fir’aun dengan bahasa yang lemah lembut. Sebagaimana disampaikan oleh Allah ta’ala dalam firman-Nya:
Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, Sesungguhnya Dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut”.
(QS. Thahaa; 43-44)
 Kesalahan saudara muslim yang berbeda organisasi dakwah pastilah jauh lebih ringan dari dosa dan kesalahan yang dilakukan oleh Fir’aun yang mengaku sebagai Rabb penguasa alam semesta. Demikian pula, kebaikan para aktivis dakwah tidaklah mungkin bisa menyamai atau melebihi kebaikan nabi Musa dan Harun ‘alaihimas salaam. Sehingga, apabila manusia terbaik diperintahkan memberi nasehat kepada manusia terburuk dengan bahasa lemah lembut, layaklah manusia yang beru berjuang jadi baik menasehati dengan lemah lembut manusia yang juga baru berjuang menjadi baik.
Amar ma’ruf nahy munkar yang dilakukan dengan lisan yang santun jauh lebih mudah diterima oleh hati nurani seorang muslim dari pada lisan yang kasar, cuka mencela dan mencaci maki
MARI KITA SALING MEMAAFKAN…..
admin Fahrurozi Abu Syamil

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *