Statement pak mentri tentang cara masuknya radikalisme ke masjid² melalui anak² muda berparas bagus, memiliki hafalan al-Quran dan cakap berbahasa arab, zahir nya memang nampak konyol.

Hanya saja saya merasa hawatir statement ini di aminkan oleh sebagian orang awam, karena menganggap itu adalah pernyataan dari orang yang ahli dibidang nya.

Hingga akhir nya ada pemikiran, anak² tidak perlu di pondokkan, tidak perlu menjadi penghafal al-Quran dan bisa berbahsa arab, karena hal itu bisa membawa mereka menjadi pribadi² yang radikal.

Bisa jadi ini adalah langkah awal untuk menjauhkan generasi muda dari al-Quran, menggiring mereka secara bertahap untuk menjadi orang yang berpaham liberal.

Saya teringat pernyataa Ibnu Hubairah (w 650 H) :

ومن مكايد الشيطان تنفير عباد الله عن تدبر القرآن ، لعلمه أن الهدى واقع عند التدبر

Di antara jerat² setan adalah upaya menjauhkan hamba² Allah dari meresapi al-Quran (membaca dan menghafal adalah wasilah terhadap hal itu) karena setan tahu dengan betul, hidayah didapat ketika mentadabburi al-Quran.

Dan pemikiran semacam ini karena pengaruh statement orang itu, tak hanya terhanti pada satu dua orang, namun akan menyebar dan mempengaruhi banyak orang lain, bahkan terwariskan ke generasi² selanjut nya.

Ibnu Taimiah (w 728 H) pernah menyatakan :

وإذا كان الغلط شبرا ، صار في الأتباع ذراعا ثم باعا ، حتى آل هذا المآل

Bila kesalahan itu awal nya hanya sejengkal, maka pada pengikut akan bertambah menjadi sehasta, kemudian menjadi sedepa hingga menjadi kesalahan yang dominan dan menyebar.

Beliau juga menyatakan :

فالبدع تكون في أولها شبرا ، ثم تكثر في الأتباع حتى تصير أذرعا ، وأميالا ، وفراسخ

Bida’ah (kesalahan dan kesesatan) awal mula nya hanya sejengkal, kemudian semakin banyak hingga menjadi sehasta, bahkan bermil² dan berkilo kilo kilometer.

Jadi statement orang itu jangan hanya dijadikan candaan, namun berikan pengingkaran yang serius, agar semua orang tahu kalau itu adalah pemikiran yang keliru, bahkan bisa jadi itu langkah awal untuk menyudutkan islam yang benar dan menyebarkan islam (pemikiran) yang sejalan dengan idiologi sekuler dan faham liberal, wallahu a’lam.

  • Jiwa yang terusik dan tersinggung –
admin Ibnu Majah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *