Oleh : Abdullah Al Jirani
Shalat Ied (hari raya) hukumnya sunah mu’akkadah (sunah yang ditekankan). Jumlahnya dua rekaat. Dianjurkan untuk ditunaikan secara berjama’ah dan boleh juga sendiri-sendiri. Paling utama dikerjakan di masjid, dan boleh juga dikerjakan di luar masjid seperti lapangan. Tidak disunahkan adzan dan iqamat di dalamnya, tapi cukup diganti dengan kalimat “Ash-Shalatu jami’ah” (mari semuanya mulai menunaikan shalat). Waktunya dimulai dari terbitnya Matahari sampai waktu zawal (tergelincirnya Matahari dari tengah langit ke arah barat).
Adapun tata caranya sebagi berikut : 
REKAAT PERTAMA :
(1). Niat dalam hati beriringan dengan takbir dan boleh dibantu dengan dilafadzkan sebelum mengucapkan takbir dengan contoh kalimat sbb : 
أُصَلِّيْ سُنَّةَ عِيْدِ الْفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ إِمَامًا أَوْ مَأْمُوْمًا للهِ تَعَالَى
“Ushalli sunnata ‘Idul fitri rakataini imamam / makmuman lillahi ta’ala.”(Aku niat shalat sunah Idul Fitri dua rekaat sebagai imam atau makmum – dipilih sesuai posisinya – karena Allah Ta’ala.)”
(2). Mengucapkan takbiratul Ihram dengan mengangkat kedua tangan setentang dengan pundak.
(3). Membaca doa Iftitah.
(4). Membaca takbir zawaid (tambahan) sebanyak 7 (tujuh) kali dengan mengangkat tangan setentang dengan pundak dan meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri di atas pusar diantara dua takbir. Jarak tiap takbir kurang lebih seperti seorang membaca satu ayat pertengahan (tidak panjang dan tidak pendek) dari Al-Qur’an. Diantara takbir yang satu dengan yang lain (sampai takbir ke 6) disunahkan untuk membaca dzikir, takbir dan tahmid. Contohnya :
سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ
“Subhanallahu, wal hamdulillah, wa laa ilaha illallah wallahu akbar.” (Maha Suci Allah, segala pujian bagi Allah, tidak ada sesembahan kecuali Allah, Allah Maha Besar).
(5). Membaca Ta’awudz (A’udzubillah min syaithonir rajim), lalu membaca surat Al-Fatihah.
(6). Membaca surat Qaf, atau Al-A’la, atau boleh juga dengan surat yang lain, atau sebagian ayat dari Al-Qur’an (sesuai kemampuan).
(7). Rukuk, bangkit dari rukuk, sujud dengan mendahulukan lutut, bangkit dari sujud dan duduk diantara dua sujud, sujud, naik ke rekaat kedua. (bacaan doa-doanya sama dengan bacaan ketika shalat wajib)

REKAAT KEDUA : 
(1). Naik dari rekaat pertama menuju rekaat kedua dengan mengucapkan takbir.
(2). Membaca takbir zawaid sebanyak 5 (lima) kali dengan mengangkat tangan setentang dengan pundak dan meletakkan tangan kanan di atas tangan kikir di atas pusar diantara dua takbir. Diantara takbir yang satu dengan yang lain (sampai takbir ke 4) disunahkan untuk membaca dzikir, takbir, tahmid, contohnya :
سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ
“Subhanallahu, wal hamdulillah, wa laa ilaha illallah, wallahu akbar.” (Maha Suci Allah, segala pujian bagi Allah, tidak ada sesembahan kecuali Allah, Allah Maha Besar).
(3). Membaca Ta’awudz, lalu surat Al-Fatihah.
(4). Membaca surat  Al-Qamar atau Al-Ghasyiyah, atau yang lainnya (sesuai kemampuan).
(5). Rukuk, bangkit dari rukuk, sujud dengan mendahulukan lutut, bangkit dari sujud dan duduk diantara dua sujud, sujud, duduk tasyahud akhir dan membaca doa tasyahud akhir, lalu salam ke kanan (wajib) dan ke kiri (sunah).
PANDUAN KHUTBAH HARI RAYA
Setelah selesai shalat, disunahkan untuk khutbah dua kali yang disela dengan duduk sebagaimana khutbah Jum’at. Disunahkan khutbah di atas mimbar, dan boleh bertumpu pada tongkat atau yang semisalnya. Khutbah dianjurkan dalam kondisi berdiri dan boleh juga dalam keadaan duduk. Adapun tata caranya sebagai berikut :
KHUTBAH PERTAMA :
(1). Salam, lalu membaca takbir sebanyak :  9 (sembilan) kali.
(2). Membaca tahmid (minimal : Alhamdulilah), shalawat kepada nabi (minimal : Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad), memberikan wasiat taqwa, lalu membaca ayat Al-Qur’an.
(3). Lalu disela duduk sejenak.
KHUTBAH KEDUA :
(4). Membaca takbir sebanyak 7 (tujuh) kali.
(5). Membaca tahmid (minimal : Alhamdulilah), shalawat kepada nabi (minimal : Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad), memberikan wasiat taqwa, lalu berdoa untuk kaum muslimin.
Demikian, semoga bermanfaat bagi kaum muslimin. Amin ya Rabbal ‘alamin. Wallahu a’lam bish shawab.
REFERENSI : 
(1). Tuhfatul Muhtaj, jilid III, hlm. 39 – 47
(2). Kifayatul Akhyar, hlm. 148
(3). Busyra Al-Karim, hlm. 421
(3). Al-Mu’tamad, jilid I, hlm. 549
(4). Al-Fiqhu Al-Manhaji, jilid I, hlm.221
admin Abdullah Al-Jirani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *