Non musim/kafir yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah kafir dzimi(*). Adapun kafir harbi (orang kafir yang memerangi atau mengusir umat muslim), maka para ulama sepakat tidak boleh untuk mendistribusikan daging qurban kepada mereka. Tentang mendistribusikan daqing qurban kepada orang fakir/miskin dari kalangan non muslim (kafir dzimi), telah terjadi silang pendapat di kalangan ulama :

PERTAMA : Tidak boleh secara mutlak, baik qurban yang sunah atau yang wajib. Alasan pendapat ini, karena syari’at qurban adalah merupakan dhiyafah (jamuan) dari Allah kepada kaum muslimin, maka tidak boleh untuk memberi kuasa/kesempatan kepada non muslim untuk ikut serta di dalamnya. ini merupakan pendapat yang masyhur dari para ulama syafi’iyyah muta’akhirin (kurun belakangan).

Dalam Tuhfatul Muhtaj (9/363), Ibnu Hajar Al-Haitami (w.974) menyatakan :

وَلَا يُصْرَفُ شَيْءٌ مِنْهَا لِكَافِرٍ عَلَى النَّصِّ

“Tidak boleh sedikitpun hewan qurban didistribusikan kepada orang kafir menurut pernyataan (dari ulama syafi’iyyah muta’akhirin).” [Tuhfatul Muhtaj : 9/364]

KEDUA : Boleh dalam qurban yang bersifat sunah, tapi tidak boleh dalam qurban yang bersifat wajib. Alasan pendapat ini, bahwa syariat qurban pada hakikatnya berbentuk sedekah. Dan sedekah kepada non muslim secara umum diperbolehkan, demikian pula sedekah daging qurban kepada mereka. Ini merupakan pendapat Al-Hasan Al-Bashri, Abu Hanifah, Abu Tsaur, Ath-Thabari dan Imam An-Nawawi . Adapun imam Malik, memakruhkan. Sedangkan imam Al-Laits membolehkan jika daging qurban telah dimasak sebelumnya.

Setelah membawakan silang pendapat para ulama dalam masalah ini, Imam An-Nawawi (w.676 H) menyatakan :

وَلَمْ أَرَ لِأَصْحَابِنَا كَلَامًا فِيهِ وَمُقْتَضَى الْمَذْهَبِ أَنَّهُ يَجُوزُ إطْعَامُهُمْ مِنْ ضحية التطوع دون الواجبة

“Aku tidak mengetahui adanya pernyataan tegas dalam masalah ini dari para sahabat kami(para ulama Syafi’iyyah). Jika dilhat dari kesesuaian (qawaid) madzhab (Syafi’i), maka diperbolehkan untuk memberi makan kepada mereka (kafir dzimi) dari qurban yang bersifat sunah, bukan yang bersifat wajib.” [Al-Majmu Syarhul Muhadzab : 8/425].

jika kita perhatikan, maka pendapat imam An-Nawawi yang membolehkan, lebih sesuai dengan qawaid (kaidah) madzhab Syafi’i dalam masalah sedekah sebagaimana yang beliau (imam An-Nawawi) tegaskan sendiri dalam nukilan di atas. Dan kami pribadi condong kepada pendapat ini. Wallahu a’lam bish shawab.

20 Dzulqa’dah 1441 H
Abdullah Al-Jirani

(*) Kafir dzimi adalah : orang kafir yang tinggal di negara Islam dengan membayar upeti serta mematuhi hukum-hukum Islam yang diterapkan kepada mereka. Mungkin ada yang bertanya, orang kafir di Indonesia saat ini termasuk kafir dzimi atau harbi ? Jawab : Tidak semua pertanyaan bisa dijawab secara umum apalagi di medsos.

admin Abdullah Al-Jirani, Fiqih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *