Agar lebih memahami peran ibu terhadap pendidikan anak-anak mereka, marilah kita baca dan renungkan bagaimana peran ibu para ulama kaum muslimin dalam mendidik anak-anak mereka sehingga menjadi para imam, ulama besar kaum muslimin.

KISAH IBU IMAM MALIK BIN ANAS

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Uwais,

“Aku mendengar pamanku, Malik bin Anas, bercerita, ‘Dulu, sewaktu aku kecil, ibuku biasa memakaikanku pakaian dan mengenakan imamah untukku. Kemudian ia mengantarkanku kepada Rabi’ah bin Abi Abdirrahman. Ibuku mengatakan, ‘Anakku, datanglah ke majelisnya Rabi’ah. Pelajari akhlak dan adabnya sebelum engkau mempelajari hadits dan fikih darinya’.”

Lihatlah bagaimana Ibu Imam Malik mempersiapkan diri Imam Malik dan memotivasi beliau agar mempelajari ilmu dan adabnya para ulama.

KISAH IBU IMAM ASY SYAFI’I

Ayah Imam Asy Syafi’i wafat dalam usia muda. Ibunyalah yang membesarkan, mendidik, dan memperhatikannya hingga kemudian Muhammad bin Idris Asy Syafi’i menjadi seorang imam besar.

Ibunya membawa Muhammad kecil hijrah dari Gaza di Palestina menuju Makkah. Di Makkah, ia mempelajari Alquran dan berhasil menghafalkannya saat berusia 7 tahun. Kemudian sang ibu mengirim anaknya ke pedesaan yang bahasa Arabnya masih murni. Sehingga bahasa Arab beliau pun menjadi fasih.

Setelah itu, ibunya memperhatikannya agar bisa berkuda dan memanah. Jadilah ia seorang pemanah ulung. Dari seratus anak panah pernah ia muntahkan dari busurnya, tak satu pun meleset dari sasaran.

Ibu Al Imam Asy Syafi’I tidak pernah meninggalkan urusan berlalu begitu saja, akan tetapi dipenuhi dengan kedisiplinan dalam mendidik. Imam Malik akhirnya memperbolehkan Imam Asy Syafi’i muda untuk berfatwa dalam usia baru lima belas tahun.

Pengorbanan dan perhatian ibu Al Imam Asy Syafi’i tidak sia-sia. Di usia yang muda keberhasilan pada diri beliau sudah tampak. Dan selanjutnya Al Imam Asy Syafi’i pun dikenal sebagai seorang ulama besar.

KISAH IBU IMAM AHMAD BIN HANBAL

Ibu Imam Ahmad bernama Shafiyah binti Maimunah binti Abdul Malik. Ayahnya wafat di usia muda, tiga puluh tahun. Ibunya pun hidup menjanda dan enggan menikah lagi, walaupun usianya belum mencapai tiga puluh tahun. Ia hanya ingin fokus memenuhi kehidupannya untuk anaknya dengan kehidupan yang baik. Maka jadilah Imam Ahmad sebagai ulama Muwahhidin, Imam Ahlussunnah Wal Jama’ah, beliaulah imam Ahmad rahimahullah.

KISAH IBU IMAM AL BUKHARI

Imam Al Bukhari tumbuh besar sebagai seorang yatim. Ibunyalah yang mengasuhnya. Ibunya mendidiknya dengan pendidikan yang terbaik. Ibunya yang mengurus keperluannya, mendoakannya, dan memotivasinya untuk belajar dan berbuat baik.

Saat Imam Al Bukhari berusia enam belas tahun, ibunya mengajak beliau safar ke Makkah. Kemudian meninggalkan putranya di negeri haram tersebut. Ibunya pun meninggalkan Imam Al Bukhari agar putranya mengambil ilmu dengan lisan orang-orang Makkah, maka kelak Al Bukhari pun kembali ke negerinya dalam keadaan dia sudah menjadi ulama besar ahli hadits.

Lihatlah bagaimana mereka tumbuh menjadi ulama besar, bahkan tanpa keberadaan sosok ayah di samping mereka. Ini semua adalah berkat keutamaan dari Allah subhanahu wata’ala kemudian juga karena kepedulian dan kegigihan seorang ibu terhadap pendidikan anak mereka. Peran ibu dalam mendidik anak sangatlah penting untuk bisa membawa mereka menuju keberhasilan.

Wallahu a’lam bisshawab.

Referensi kisah dari: www.islamstory.com/ar/امهات-خالدات-في-التاريخ-الاسلامي

#islamicparenting
#wiramandiribachrun

Tarbiyatul Abna.

admin Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *