Dalam proses memahami dalil, baik itu dalil Al-Qur’an, As-Sunnah, Ijma’, maupun Qiyas, sering ditemui dua dalil yang tampak bertentangan/kontradiksi.

Hal seperti ini dalam ilmu fikih dikenal dengan istilah TA’ARUDH.

Dalil yang tampak bertentangan/ta’arudh besar kemungkinan bkan karena kedua dalil tersebut saling bertentangan, tapi lantaran ilmu, pemahaman, dan tadabbur manusianya yang belum mampu menghasilkan pemahaman yang tepat. Maka, bukan dalilnya yang harus dibenturkan, namun ilmu, pemahaman, dan tadabbur manusianya yang perlu ditingkatkan.

CONTOH TA’ARUDH/KONTRADIKSI DALIL
1 Firman Allah, “Dan Sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus”.(QS. Asy-Syura: 52)

2 Firman Allah, “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendakinya”.(QS. Al-Qashash: 56)

Dua dalil di atas tampak bertentangan, namun ternyata tidak.

Kuncinya ada di pemahaman tafsir kata “Hidayah/petunjuk” pada kedua ayat di atas.

Makna “Hidayah” pada ayat pertama: memberikan penjelasan dan arahan(hidayatul bayan wal irsyad) mengenai Islam yang mengantarkan pada hidayah Allah. Hal itu bisa diusahakan oleh para Rasul dan lainnya.

Makna “Hidayah” ayat ke dua: menanamkan keimanan ke dalam hati manusia(hidayatut taufiq). Hal mana hidayah ini mutlak milik Allah.
(Taisirul Karimir Rahman, As-Sa’di: 744)
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
E-mail: majalah.hujjah@gmail.com
FB: Majalah Hujjah
Instagram: majalah_hujjah

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
Minat menjadi Agen?
Hubungi:
0852 9269 7188

admin Fikih, Majalah Hujjah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *