Tidak semua pernyataan Imam Syafi’i pasti menjadi madzhab Syafi’i. Dan tidak semua perkara yang tidak dinyatakan imam Syafi’i (secara spesifik) tidak menjadi madzhab Syafi’i. Dan untuk menjadi syafi’i (pengikut madzhab imam Syafi’i), tidak disyaratkan untuk mengikuti seluruh pendapat Imam Syafi’i secara total (100%).Kemudian, dalam madzhab Syafi’i sendiri ada pendapat mu’tamad dan ada yang ghairu mu’tamad. Ada yang masyhur dan ghairu masyhur.
Mengidentifikasi & mengklasifikasikan pendapat yang masuk madzhab Syafi’i atau tidak, mu’tamad atau tidak, masyhur atau tidak, bukan pekerjaan mudah. Hanya bisa dilakukan mereka yang telah mencapai derajat mujtahid seperti imam An-Nawawi dan Ar-Rafi’i.
Oleh karenanya, biarlah yang berbicara dalam madzhab Syafi’i mereka yang berkompenten di dalamnya. Jangan suka ngurusi atau berbicara dalam perkara yang bukan bidangnya. Karena jika dipaksakan, hanya akan menghasilkan berbagai pernyataan ‘nyleneh’. Selain itu, juga akan mempertontonkan kebodohan kepada khalayak. Walaupun bodoh itu gratis, jangan sampai kita senang untuk memamerkannya.
Penghuni rumah lebih mengerti isi rumahnya daripada orang lain. Siapa yang berbicara dalam perkara yang bukan bidangnya, maka ia akan membawa perkara-perkara yang nyleneh. Semoga Allah merahmati seorang yang tahu kadar dirinya. Mari menyibukkan diri dengan belajar, jangan menyibukkan diri untuk gegabah menyalahkan orang lain.Wassalam… (_@Abdullah Al-Jirani).
admin Abdullah Al-Jirani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *