Ziarah kubur di hari raya

Ziarah kubur hukum asalnya mustahab (dianjurkan) di seluruh waktu menurut Jumhur (mayoritas) ulama termasuk di dalamnya madzhab Syafi’i, berdasarkan perintah nabi ﷺ dalam hal ini. Bahkan imam An-Nawawi sampai menukil ijma’ (konsensus) ulama dalam hal ini di dalam kitab Syarah Shahih Muslim : jilid 7, hlm. 47. Nabi ﷺ bersabda :

نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا

“ Aku dulu pernah melarang kalian untuk ziarah kubur, maka sekarang berziarahlah kalian.” [HR. Muslim].

Anjuran nabi ﷺ untuk berziarah kubur datang dalam bentuk mutlak, tanpa ada pembatasan untuk dilakukan di hari tertentu, tapi juga tida ada larangan untuk dilakukan di hari tertentu. Sesuatu yang mutlak, diamalkan sesuai dengan kemutlakannya. Oleh karena itu, barang siapa yang ingin ziarah kubur di hari raya, dipersilahkan, dan yang ingin melakukannya di luar hari raya, juga dipersilahkan. Keduanya masuk dalam hukum mustahab (dianjurkan) berdasarkan hadits di atas.

Nabi ﷺ apabila pulang dari shalat Ied, beliau mengambil jalan yang berbeda dengan jalan saat berangkat. Menurut sebagian ulama, hal ini bertujuan untuk berziarah kubur para kerabatnya di kedua jalan tersebut. Imam Ar-Rafi’i Asy-Syafi’i (w. 623 H) berkata :

وروي أن النَّبي – صلى الله عليه وسلم – : كَانَ يَغْدُو يَومَ الْفِطْرِ وَالأَضْحَى فِي طَرِيقٍ، وَيَرْجِعِ فِي طَرِيقٍ. واختلفوا في سببه…وقيل: ليزور قبور أقاربه فيهما.

“Diriwayatkan, sesungguhnya Nabi ﷺ pergi di waktu pagi di hari raya Iedul Fitri dan Adha di suatu jalan dan kembali lewat jalan lain. Para ulama berselisih dalam hal sebab beliau melakaukan itu…(kemudian beliau menyebutkan beberapa pendapat, salah satunya)…Ada yang mengatakan : Untuk menziarahi kubur para kerabat beliau di kedua jalan tersebut.” [Al-‘Aziz Syarhul Wajiz : 2/365 ].

Bahkan ada sebagian ulama yang mengutamakan ziarah kubur di waktu-waku tertentu yang memiliki keutamaan secara khusus, seperti hari Jumat, bulan suci Ramadhan, hari raya, dan yang lainnya. Karena ada suatu kaidah : “bahwa suatu amalan itu bisa menjadi lebih afdhal (utama) karena dipengaruhi oleh faktor waktu dan tempat”. Misalnya sedekah di bulan Ramadhan atau di hari jumat, lebih utama dari sedekah di luar keduanya, padahal sama-sama sedekah. Sebagaimana shalat di masjid Haram lebih utama shalat di masjid selainnya, padahal sama-sama shalat. Perbedaan ini dipengaruhi oleh keutamaan waktu dan tempat. Dan kaidah ini mu’tabarah (diperhitungkan) di sisi para ulama. [fatawa Al-Hindiyyah]

Jadi, jika ada yang “mengkhususkan” ziarah kubur di hari raya dalam arti “menyakini ziarah kubur di hari itu lebih utama”, maka boleh saja berdasarkan kaidah yang telah disebutkan. Tapi kalau “mengkhususkan” hari tersebut dalam arti bahwa “ziarah kubur dikhususkan oleh nabi hanya di hari raya saja”, dimana di luar hari itu tidak boleh, maka ini tidak tepat.

Selain itu, tradisi masyarakat yang berziarah kubur di hari raya, sangat mungkin juga dipengaruhi oleh kesempatan dan kelonggaran yang ada waktu itu. Karena waktu itu mereka sedang pulkam (pulang kampung) atau sedang berkumpul dengan sanak saudara/kerabat. Jika di waktu lain, belum tentu mereka bisa melonggarkan waktu untuk melakukannya. Kesimpulannya, ziarah kubur di hari raya hukumnya boleh (baca : mustahab) berdasarkan hadits di atas. Alhamdulillah Rabbil ‘alamin.

12 Syawwal 1441H


Baca juga: Doa ketika Ziarah Kubur

admin Abdullah Al-Jirani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *